Trauma Pleksus Brakialis Pada Bayi

https://www.ibubayi.comBrachial Palsy

Kelainan ini dibagi atas:

  • Paralisis Erb, yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-cabang C5 dan C6 dari pleksus brakialis.
  • Paralisis Klumpke, yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-cabang C8-Th 1 dari pleksus brakialis.

Trauma pleksus brakialis umumnya terjadi pada bayi besar. Kelainan ini timbul akibat tarikan yang kuat pada daerah leher saat melahirkan bayi sehingga terjadi kerusakan pada pleksus brakialis.

Biasanya ditemukan pada persalinan letak sungsang bila dilakukan traksi yang kuat saat melahirkan kepala bayi. Pada persalinan letak kepala, kelainan ini dapat terjadi pada kasus distosia bahu. Pada kasus tersebut kadang-kadang dilakukan tarikan pada kepala yang agak kuat kebelakang untuk melahirkan bahu depan.

Insidens paralisis pleksus brakialis ialah 0,5-0,2 per 1000 kelahiran hidup. kebanyakan kasus merupakan paralisis Erb. Paralisis pada seluruh pleksus brakialis terjadi pada 10% kasus.

Lesi traumatic yang berhubungan dengan paralisis pleksus brakialis antara lain fraktur klavikula (10%), fraktur humerus (10%), sublukasi cervical spine (5%), trauma cervical cord (5-10%), dan paralisis nervus fasialis (10-20%).

Paralisis Erb (C5-C6) paling sering terjadi dan berhubungan dengan terbatasnya gerakan bahu. Anggota gerak yang terkena akan berada dalam posisi adduksi, pronasi, dan rotasi internal. Refleks moro, bisebs, dan radialis pada sisi yang terkena akan menghilang. Refleks menggenggam biasanya masih ada. Pada lima persen kasus disertai paresis nervus frenikus ipsilateral.

Paralisis klumpke (C7-8, Th 1) jarang terjadi dan mengakibatkan kelemahan pada otot-otot intrinsic tangan sehingga bayi kehilangan refleks menggenggam.

Bila serabut simpatis servikal pada spina torakal pertama terlibat, maka akan dijumpai sindrom Horner. Tidak ada pedoman dalam penentuan prognosis.

Narakas mengembangkan system klasifikasi (tipe I-V) berdasarkan beratnya dan luasnya lesi dalam menentukan prognosis pada 2 bulan pertama setelah lahir.

Berdasarkan studi kolaboratif perinatal yang melibatkan 59% bayi, 88% kasus sembuh pada 4 bulan pertama, 92% sembuh dalam 12 bulan,  dan 93% sembuh dalam 48 bulan.

Penelitian lain pada 28 bayi dengan paralisis pleksus parsial dan 38 bayi dengan paralisis pleksus total, 92% bayi sembuh spontan.

Gejala sisa dapat berupa deformitas tulang yang progresif, atrofi otot, kontraktur sendi, kemungkinan terganggunya pertmbuhan anggota gerak, dan kelemahan bahu.

Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi daerah bahu dan lengan atas untuk menyingkirkan trauma tulang. Foto toraks harus dikerjakan untuk menyingkirkan trauma tulang.

Foto toraks harus dikerjakan untuk menyingkirkan kemungkinan paresis nervus frenikus. Elektromiografi (EMG) dan pemeriksaan konduksi saraf kadang-kadang diperlukan.

MRI  dapat digunakan untuk menilai trauma pleksus secara noninvasif dalam waktu yang relative singkat dan dapat dikerjakan tanpa anestesi umum.

MRI dapat mengetahui adanya meningokel dan membedakan antara akar saraf yang utuh dengan pseudomeningokel (kemungkinan avulse komplit).

Apabila dilakukan dengan hati-hati, CT mielografi intratekal dapat memperlihatkan disrupsi preganglion, pseudomeningokel, dan avulse akar saraf parsial. CT mielografi lebih invasive dan memiliki beberapa keuntungan jika dibandingkan MRI.

Penanganan meliputi pencegahan kontraktur, imobilisasi anggota gerak dengan cara meletakkan anggota gerak atas pada rongga abdomen selama seminggu pertama dan selanjutnya mulai latihan dengan pergerakan pasif pada semua sendi anggota gerak.

Gunakan bantuan bidai pergelangan tangan. Hasil yang baik dari terapi bedah adalah bila dikerjakan pada tahun pertama kehidupan. Beberapa peneliti merekomendasikan eksplorasi  bedah dan pencangkokan (grafting) bila tidak terdapat fungsi pada akar atas pada usia 3 bulan.

Tindakan eksplorasi awal umumnya tidak dianjurkan. Komplikasi eksplorasi pleksus brakialis antara lain infeksi, prognosis buruk, dan luka bakar karena karena penggunaan mikroskop pada saat operasi.

Pasien dengan avulse akar prognosisnya buruk. Prosedur paliatif dengan cara transfer tendon telah beberapa kali dikerjakan. Transfer latisimus dorsi dan teres mayor direkomendasikan untuk meningkatkan fungsi otot bahu pada paralisis Erb.