Tips Agar Bayi Tidak Terbiasa Bangun Malam

Tips Agar Bayi Tidak Terbiasa Bangun MalamSetiap harinya bayi tidur selama 16-18 jam. Seiring dengan umurnya anak di atas usia satu tahun tidur antara 10-12 jam. Yang merepotkan adalah jika tidur siangnya lama sehingga ketika malam dapat terbangun 1 sampai dua kali. Bagaimana cara mengatasi hal ini,

Silahkan baca tips berikut:

Geletik Kakinya
Dibilang repot, kata Asril Aminullah, sebetulnya tidak juga. “Asal orangtua pandai mengatur pola tidurnya, tak jadi masalah. Misal, kebutuhan tidur bayi 16 jam. Nah, sepanjang pagi dan siang, jangan biarkan si kecil tidur lebih dari 8 jam. Bangunkan dan ajak ia bermain. Kita harus ganggu terus si bayi agar bangun. Gelitik tapak kakinya hingga ia terjaga. Bila perlu, bawa ia keluar dan terkena sinar matahari.”

Hindari Botol
Yang perlu diperhatikan, lanjut Asril Aminullah, tak perlu setiap bayi terbangun, ibu memberi ASI. Sebab, belum tentu si kecil bangun karena lapar. “Bisa saja karena popoknya basah, digigit nyamuk, atau karena memang sudah waktunya bangun.”

Pada malam hari di atas pukul 21.00, ibu juga tak perlu memberi ASI lagi. “Asal sebelum tidur sudah diberi cukup ASI. Toh, siang hari bayi juga sudah banyak melek hingga ia perlu tidur panjang di malam hari. Biasanya, ia akan terbangun jam 03.00 dini hari. Dengan demikian.

Kalau toh harus memberi ASI, secara bertahap kurangi jumlahnya. Hanya sekadar untuk membuat ia kembali tertidur saja. Atau, biarkan bapak menggantikan peran ibu untuk menyuapi ASI pada si kecil. Misalnya ibu sebelum tidur sudah menyiapkan ASI di kulkas dan si kecil disuapi pakai sendok. Jangan pakai botol karena bisa merusak selera anak. Anak akan jadi lebih menyukai botol daripada puting ibunya.

Tidur Bersama
Haruskah si kecil tidur bersama orangtuanya? Pada dasarnya, kata Asril Aminullah, bayi bisa tidur di mana saja. Memang, orangtua biasanya memilih tidur sekamar dengan bayinya karena alasan rasa aman dan praktis. “Jadi, bila tengah malam si kecil terbangun, orangtua bisa langsung menanganinya.” Selain itu, orangtua juga merasa lebih dekat secara batin jika sekamar dengan bayinya.

Bagaimana dengan pendapat tidur terpisah justru baik untuk melatih kemandirian anak? “Ah, itu, kan, karena orangtuanya tak mau terganggu privasinya. Bayi, kan, merem terus, belum bisa dilatih mandiri,” ujar Asril. Apa pun, lanjutnya, pilihan tetap di tangan orangtua. “Bisa juga, kan, diambil jalan tengah. Saat tidur di siang atau sore hari, ia bisa ditidurkan di kamar orangtua dan malam hari di kamarnya sendiri,” katanya.

Tarik Seprei
Yang justru perlu diperhatikan orangtua adalah keamanan tempat tidur bayi. Antara lain:
– Sebaiknya tempat tidur mempunyai dinding tertutup dan tak diletakkan di tempat yang mudah terkena tiupan angin.

– Pilih tempat tidur yang agak keras dan rata. Jangan terlalu lembut yang bisa menenggelamkan kepala bayi sehingga bila bayi berbalik, hidungnya tertutup kasur. Selain itu, kasur yang rata dan agak kencang bagus untuk pembentukan otot-otot dan tulang belakangnya.

– Seprei harus ditarik kencang di bawah kasur, sehingga tak mudah kusut kala bayi bergerak-gerak. Dikhawatirkan lipatan seprei bisa menutupi hidungnya kala ia tidur miring atau tengkurap.

– Jika menggunakan bantal, perhatikan letaknya, jangan sampai menutupi hidungnya.

– Selimut jangan terlalu tebal. Hawa yang terlalu panas malah membuat bayi sulit bernapas.

– agalah temperatur kamar agar tetap hangat. Jangan terlalu panas dan terlalu dingin. Jika udara dingin, selimuti bayi.