Ruptur Hepar dan Tanda Perdarahan Intraperitoneal

https://www.ibubayi.comGejala dan tanda perdarahan intraperitoneal

Perdarahan mungkin fulminan atau secara perlahan, tetapi pasien pada akhirnya akan mengalami kolaps sirkulasi. Perdarahan intraabdomen harus dipertimbangkan pada setiap bayi yang mengalami syok, pucat, anemia yang tidak dapat dijelaskan, dan distensi abdomen.

Permukaan kulit rongga abdomen dapat berwarna kebiruan. Pemeriksaan radiologic tidak dapat menegakkan diagnosis, tetapi dapat member petunjuk adanya cairan bebas dalam rongga peritoneum.

Parasentesis merupakan tindakan darurat yang perlu dikerjakan. Rupture hepar, limpa, dan perdarahan adrenal merupakan organ yang mungkin menimbulkan perdarahan. Operasi serta transfuse darah dapat memperbaiki prognosis.

Rupture hepar

Lesi yang paling sering terjadi adalah hematoma subkapsular, yang meningkat 4-5 cm sebelum rupture. Gejala syok dapat terjadi belakangan.

Laserasi jarang terjadi, biasanya terjadi disebabkan oleh tarikan abnormal pada ligamen peritoneal atau akibat tekanan berlebihan oleh tepi tulang iga. Bayi dengan hepatomegali memiliki resiko yang lebih besar.

Factor predisposisi lainnya antara lain prematuritas, pascamaturitas, gangguan koagulasi, dan asfiksia. Pada kasus afiksia, usaha resusitasi yang terlalu bersemangat (sering dengan cara yang salah) merupakan suatu kesalahan.

Rupture limpa paling sedikit terjadi lima kali lebih sering dibandingkan laserasi hati. Factor predisposisi dan mekanisme terjadi trauma pada kedua organ tersebut sama.

Pengenalan dini, stabilisasi bayi, dan evaluasi adanya defek koagulasi sangat penting dalam penatalaksanaan bayi dengan rupture hati. Transfuse darah merupakan tahap awal yang sangat penting. Koagulopati yang menetap mungkin dapat ditangani dengan pemberian fresh frozen plasma dan transfuse trombosit.

Rupture hepar tidak memiliki spesifikasi terhadap ras tertentu. Laki dan perempuan mempunyai risiko yang sama terjadinya rupture hati. Bayi biasanya mengalami rupture segera setelah lahir, atau rupture menjadi jelas pada beberapa jam setelah lahir atau hari –hari pertama.

Pengenalan trauma lahir memerlukan pemeriksaan fisik dan evaluasi neurologic yang teliti pada bayi untuk menentukan apakah ada trauma lainnya. Kadang-kadang trauma terjadi sebagai akibat resusitasi. Simetri dari struktur dan fungsi harus dinilai seperti melakukan penilaian saraf otak, gerakan sendi, dan integritas tulang dan kulit kepala.