Perubahan Mucus Serviks dan Perubahan Siklik pada Siklus Haid

https://www.ibubayi.comMucus seviks

Pada perempuan ada kontinuitas yang langsung antara alat genital bagian bawah dengan kavum peritonei. Kontinuitas ini sangat penting untuk akses spermatozoon menuju ke ovum, fertilisasi terjadi dalam tuba falopii.

Ada risiko infeksi yang asendens, tetapi secara alami risiko tersebut dicegah dengan adanya mucus serviks sebagai berier yang permeabilitasnya bervariasi selama siklus haid.

  1. Awal fase folikular mucus serviks viskus dan impermeable
  2. Akhir fase folikular kadar estrogen meningkat memacu perubahan dan komposisi mucus, kadar airnya meningkat secara progresif, sebelum ovulasi terjadi mucus serviks banyak mengandung air dan mudah dipenetrasi oleh spermatozoon. Perubahan ini dikenal dengan istilah “spinnbarkheit”.
  3. Setelah ovulasi progesterone diproduksi oleh korpus luteum yang efeknya berlawanan dengan estrogen, dan mucus serviks menjadi impermeable lagi, orifisium uteri eksternum kontraksi.

Perubahan-perubahan  ini dapat dimonitor oleh perempuan sendiri jika ingin terjadi konsepsi  atau dia ingin menggunakan “rhythm method” kontrasepsi.

Dalam klinik perubahan ini dapat dimonitor dengan memeriksa mucus serviks di bawah mikroskop tampak gambaran seperti daun pakis atau fern-like pattern yang parallel dengan kadar estrogen sirkulasi, maksimum pada saat sebelum ovulasi, setelah itu perlahan-lahan hilang.

Perubahan-perubahan siklik

Meskipun tujuan perubahan siklik pada hormone ovarium berpengaruh pada alat genital, hormone tersebut ikut sirkulasi ke seluruh tubuh dan berpengaruh pada organ-organ lain.

Suhu badan basal

Kenaikan suhu badan basal sekitar 1derajat F atau 0,5 derajat Celcius terjadi pada saat ovulasi dan terus bertahan sampai terjadi haid. Hal ini disebabkan oleh efek termogenik progesterone pada tingkat hipotaamus.

Bila terjadi konsepsi kenaikan suhu badan basal akan dipertahankan selama kehamilan. Efek yang sama jika diinduksi dengan pemberian progesterone.

Perubahan pada mama

Kelenjar mama manusia sangat sensitive terhadap pengaruh estrogen dan progesterone. Pembesaran mama merupakan tanda pertama pubertas, merupakan respon peningkatan estrogen ovarium.

Estrogen dan progesterone berefek sinergis pada mama selama siklus pembesaran mama disebabkan oleh perubahan vascular, bukan karena perubahan kelenjar.