Perubahan Frekuensi Denyut Jantung Janin

https://www.ibubayi.comPerubahan periodik denyut jantung janin ini merupakan perubahan frekuensi dasar yang biasanya terjadi oleh pengaruh rangsangan gerakan janin atau kontraksi uterus. Ada 2 jenis perubahan frekuensi dasar, yakni sebagai berikut.

Akselerasi

Merupakan respons simpatetik, di mana terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung janin, suatu respons fisiologik yang baik (reaktif). Ciri-ciri akselerasi yang normal adalah amplitudo > 15 dpm, lamanya sekitar 15 detik dan terjadi paling tidak 2 kali dalam waktu rekaman 20 menit.

Yang penting dibedakan antra akselerasi oleh karena kontraksi dan gerakan janin.

  • Akselerasi yang seragam (uniform Acceleration). Terjadinya akselerasi sesuai dengan kontraksi uterus.
  • Akselerasi yang bervariasi (variable Acceleration). Terjadinya aklerasi sesuai dengan gerakan atau rangsangan pada janin.

Deselerasi

Merupakan respons parasimpatis (n. Vagus) melalui reseptor-reseptor (baroreseptor/kemoreseptor) sehingga menyebabkan penurunan frekuensi denyut jantung janin.

Deselerasi dini

Ciri-ciri Deselerasi dini adalah sebagai berikut:

a. Timbul dan menghilangnya bersamaan/sesuai dengan kontraksi uterus. Gambaran deselerasidini seolah merupkan cermin kontraksi uterus.

b. Penurunan amplitudo tidak lebih dari 20 dpm.

c. Lamanya deselerasi kurang dari 90o detik.

d. Frekuensi dasar dan variabilitas masih normal.

Deselerasi dini sering terjadi pada persalinan normal/fisiologis di mana terjadi kontraksi uterus yang periodik dan normal. Deselerasi ini disebabkan oleh penekanan kepala janin oleh jalan lahir yang mengakibatkan hipoksia dan merangsang refleks vagal.

Deselerasi variabel

Ciri-ciri Deselerasi variabel ini adalah:

a. Gambaran Deselerasi yang bervariasi, baik saat timbulnya, lamanya, amplitudo maupun bentuknya.

b. Saat dimulai dan berakhirnya deselerasi terjadi dengan cepat dan penurunan frekuensi dasar denyut jantung janin (amplitudo) bisa sampai 60 dpm.

c. Biasanyan terjadi akselerasi sebelum (akselerasi predeselerasi) atau sesudah (akselerasi pascadeselerasi) terjadinya deselerasi.

d. Deselerasi variabel dianggap berat apabila memenuhi rule of sixty yaitu deselerasi mencapai 60 dpm atau lebih di bawah frekuensi dasar denyut jangtung janin dan lamanya deselerasi lebih dari 60 detik.

e. Bila terjadi deselerasi variabel yang berulang terlalu sering atua deselerasi variabel yang memanjang (prolonged) harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya hipoksia janin yang berlanjut.

Deselerasi variabel ini sering terjadi akibat penekanan tali pusat pada masa hamil atau kala I. Penekanan tali pusat ini bisa oleh karena lilitan tali pusat, tali pusat tumbung, atau jumlah air ketuban berkurang (oligohidramnion).

Selam variabilitas denyut jantung janin masih baik, biasanya janin tidak mengalami hipoksia yang berarti. Penanganan yang dianjurkan pada keadaan ini adalah perubahan posisi ibu, reposisi tali pusat bila ditemukan adanyan tali pusat terkemuka atau menumbung, pemberian oksigen pada ibu, amnio-infusion untuk mengatasi oligohidramnion bila memunkinkan, dan terminasi persalinan bila diperlukan.