Pengaruh Kehamilan Postterm Terhadap Janin

https://www.ibubayi.comPengaruh pada janin

Pengaruh kehamilan postterm terhadap janin sampai saat ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa kehamilan postterm menambah bahaya pada janin, sedangkan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa bahaya kehamilan postterm terhadap janin terlalu dilebihkan.

Kiranya kebenaran terletak di antara keduanya. Fungsi plasenta mencapai puncak pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali.

Akibat dari proses penuaan plasenta, pemasokan makanan dan oksigen akan menurun disamping adanya spasme arteri spiralis. Sirkulasi utero plasenter akan berkurang dengan 50% menjadi hanya 250 ml/menit. Beberapa pengaruh kehamilan postterm terhadap janin antara lain sebagai berikut.

1. Berat janin

Bila terjadi perubahan anatomic yang besar pada plasenta, maka terjadi penurunan berat janin. Dari penelitian Vorherr tampak bahwa sesudah umur kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu.

Namun, seringkali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan.

Zwerdling menyatakan bahwa rata-rata berat janin lebih dari 3.600 gram sebesar 44,5% pada kehamilan postterm, sedangkan pada kehamilan genap bulan (term) sebesar 30,6%. Risiko persalinan bayi dengan berat lebih dari 4.000 gram pada kehamilan postterm meningkat 2-4 kali lebih besar dari kehamilan term.

2. Sindroma postmaturitas

Dapat dikenali pada neonates dengan ditemukannya beberapa tanda seperti gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti kertas (hilangnya lemak subkutan), kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras, hilangnya verniks kaseosa dan lanugo, maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genital luar, warna cokelat kehijauan atau kekuningan pada kulit dan tali pusat, muka tampak menderita, dan rambut kepala banyak atau tebal.

Tidak seluruh neonates kehamilan postterm menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi plasenta. Umumnya didapat sekitar 12-20  % neonatus dengan tanda postmaturitas pada kehamilan postterm. Berdasarkan derajat insufisiensi plasenta yang terjadi, tanda postmaturitas ini dapat dibagi dalam 3 stadium, yaitu:

Stadium I                      : kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa  dan maserasi berupa kulit kering, rapuh, dan mudahmengelupas

Stadium II                          : gejala diatas disertai pewarnaan mukonium (kehijauan) pada kulit

Stadium III                        : disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

3. Gawat janin atau kematian perinatal menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu atau lebih, sebagian besar terjadi intrapartum. Umumnya disebabkan oleh:

a. Makrosomia yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan, fraktur klavikula, palsi Erb-Duchene, sampai kematian bayi.

b. Insufisiensi plasenta yang berakibat:

  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Oligohidramin: terjadi kompresi tali pusat, keluar mekonium yang kental, perubahan abnormal jantung janin
  • Hipoksia janin
  • Keluarnya mekonium yang berakibat dapat terjadi aspirasi mekonium pada janin

c. Cacat bawaan: terutama akibat hipoplasia adrenal dan anensefalus

Kematian janin akibat kehamilan postterm terjadi pada 30% sebelum persalinan, 55% dalam persalinan dan 15% pascanatal

Komplikasi yang dapat dialami oleh bayi baru lahir ialah suhu yang tak stabil, hipoglikemi, polisitemi, dan kelainan neurologic.