Masalah Dalam Pengelolaan Kehamilan Postterm

https://www.ibubayi.comPengelolaan Kehamilan Postterm

Kehamilan postterm merupakan masalah yang banyak dijumpai dan sampai saat ini pengelolaannya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat.

Perlu ditetapkan terlebih dahulu bahwa pada setiap kehamilan postterm dengan komplikasi spesifik seperti diabetes mellitus, kelainan factor Rhesus atau isoimunisasi, preeclampsia/ aklampsia, dan hipertensi kronis yang meningkatkan resiko terhadap janin, kehamilan jangan dibiarkan berlangsung lewat bulan.

Demikian pula pada kehamilan dengan factor risiko lain seperti primitua, infertilitas, riwayat obstertrik yang jelek. Tidak ada ketentuan  atau aturan yang pasti dan perlu dipertimbangkan masing-masing kasus adalah pengelolaan kehamilan postterm.

Beberapa masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan kehamilan postterm antara lain sebagai berikut.

1. Pada beberapa penderita, umur kahamilan tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat, sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana yang diperkirakan.

2. Sukar menentukan apakah janin akan mati,  berlangsung terus, atau mengalami morbiditas serius bila tetap dalam rahim.

3. Sebagian besar janin tetap dalam keadaan baik dan tumbuh terus sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan dan tumbuh semakin besar.

4. Pada saat kehamilan mencapai 42 minggu, pada beberapa penderita didapatkan sekitar 70% serviks belum matang (unfavourable) dengan nilai bishop rendah sehingga induksi tidak selalu berhasil.

5. Persalinan yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi posmatur.

6. Pada postterm sering terjadi disproporsi kepala panggul dan distosia bahu (8% pada kehamilan genap bulan, 14% pada postterm).

7. Janin postterm lebih peka terhadap obat penenang dan narkose, sehingga perlu penetapan jenis narkose yang sesuai bila dilakukan bedah sesar (risiko bedah sesar 0,7% pada genap bulan dan 1,3% pada postterm).

8. Pemecahan selaput ketuban harus dengan pertimbangan matang. Pada oligohidramnion pemecahan selaput ketuban akan meningkatkan risiko kompresi tali pusat tetapi sebaliknya dengan pemecahan selaput ketuban akan dapat diketahui adanya mekonium dalam cairan amnion.

Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat dalam pengelolaan kehamilan postterm. Beberapa kontroversi dalam pengelolaan kehamilan postterm, antara lain adalah:

1. Apakah sebaiknya dilakukan pengelolaan secara aktif yaitu dilakukan induksi setelah ditegakkan diagnosis postterm ataukah sebaiknya dilakukan pengelolaan secara ekspektatif/menunggu.

2. Bila dilakukan pengelolaan aktif, apakah kehamilan sebaiknya diakhiri pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu.

Pengelolaan aktif: yaitu dengan melakukan persalinan anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil risiko terhadap janin.

Pengelolaan pasif/menunggu/ekspektatif: didasarkan pandangan bahwa persalinan anjuran yang dilakukan semata-mata atas dasar postterm mempunyai resiko/komplikasi cukup besar terutama risiko persalinan operatif sehingga menganjurkan untuk dilakukan pengawasan terus-menerus terhadap kesejahteraan janin, baik secara biosfik maupun biokimia sampai persalinan berlangsung dengan sendirinya atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan.