Gangguan Nervus Laryngeal

https://www.ibubayi.comParalisis nervus laryngeal

Gangguan pada nervus laryngeal dapat mempengaruhi proses menelan dan bernapas. Trauma nervus laringeal terjadi sebagai akibat posisi janin intrauterine yang mengalami rotasi kepala dan fleksi lateral.

Selama proses kelahiran, pergerakan kepala yang sama dapat mencederai nervus laryngeal. Trauma lahir ini merupakan penyebab paralisis pita suara pada 10% kasus.

Pada paralisis nervus laryngeal unilateral suara bayi terdengar serak dan stridor respirasi. Proses menelan dapat terpengaruh bila cabang superior terkena.

Paralisis bilateral mungkin disebabkan oleh trauma pada kedua nervus laryngeal, atau lebih sering karena trauma SSP seperti hipoksia atau peerdarahan yang mengenai batang otak. Pasien dengan paralisis bilateral akan mengalami gangguan napas berat atau asfiksia.

Pemeriksaan larigoskopi direk diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan membedakan paralisis pita suara dari penyebab lain gangguan napas dan stridor pada bayi baru lahir.

Tindakan ini dapat membedakan paralisis dengan etiologi lain yang jarang, seperti gangguan kardiovaskular, malformasi SSP,atau tumor mediastinal.

Paralisis akan sembuh dalam 4-6 minggu meskipun penyembuhan dapat terjadi dalam 6-12 bulan pada kasus yang berat. Terapi bersifat simtomatik.

Saat kondisi bayi mengalami perbaikan, pemberian minum sedikit-sedikit dengan frekuensi yang lebih sering dapat mengurangi risiko aspirasi. Bayi dengan paralisis bilateral memerlukan pemberian minum melalui sonde lambung dan trakeotomi.