Diagnosis dan Penatalaksanaan Kejang Demam Pada Anak

Diagnosis dan Penatalaksanaan Kejang Demam Pada AnakPada bagian akhir masa pertumbuhan bayi dan beberapa tahun pertama masa kanak-kanak, konvulsi terutama merupakan gejala awal penyakit benigna yang akut. Namun anak tetap harus diperiksa akan kemungkinan penyebab lain.

Riwayat penyakit yang seksama harus mencatat setiap serangan sebelumnya; gejala pendahulu(segera) seperti hiperiritabilitas, demam, kram otot, nyeri kepala, muntah-muntah, pusing; setiap kemungkinan defisiensi diet segala bentuk keracunan, cedera kranium atau kecendrungan perdarahan; paparan infeksi; atau predisposisi kejang familial.

Pemeriksaan fisis menyeluruh serta penilaian neurologis sangat penting dengan perhatian utama pada gambaran yang dapat menunjukkan penyebab kejang spesifik. Misalnya, daerah-daerah depigmentasi menyerupai daun pohon ash gunung putih atau lesi adenoma sebaseum, mengarah pada diagnosis sklerosis tuberosum.

Diagnosis Banding Kejang Demam

Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu didalam atau diluar susunan saraf pusat (otak).

Kelainan didalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak dan lain-lain. Oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan terlebih dahulu apakah ada kelainan organis diotak. Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam.

Penatalaksanaan Kejang Demam

Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan,yaitu:

1. Memberantas Kejang Secepat Mungkin
Bila penderita datang dengan status konvulsi, obat pilihan utama adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Efek terapeutiknya sangat cepat, yaitu antara 30 detik sampai 5 menit dan efek toksik yang serius hampir tidak dijumpai apabila diberikan secara perlahan dan dosis tidak melebihi 50 mg persuntikan.

Dosis tergantung dari berat badan, yaitu kurang dari 10 kg : 0,5-0,75 mg/kgbb dengan minimal dalam semprit 7,5 mg dan diatas 20 kg: 0,5 mg/kgbb. Biasanya dosis rata-rata yang terpakai 0,3 mg/kgbb/kali dengan maksimum 5 mg pada anak berumur kurang dari tahun dan 10 mg pada anak yang lebih besar. Diazepam diberikan langsung tanpa larutan pelarut dengan perlahan kira-kira 1 ml/menit dan pada bayi sebaiknya diberikan 1 mg/menit.

Apabila diazepam tidak bersedia, dapat diberikan fenobarbital secara intramuskulus dengan dosis awal untuk bayi baru lahir (neonatus) 30 mg/kali, anak berumur 1 bulan sampai 1 tahun : 50 mg/kali dan umur 1 tahun keatas 75 mg/kali. Bila kejang tidak berhenti setelah ditunggu 15 menit, dapat diulangi suntikan fenobarbital dengan dosis untuk neonatus 15 mg, anak 1 bulan sampai 1 tahun 30 mg dan anak diatas 1 tahun 50 mg secara intramuskuler. Hasil yang terbaik ialah apabila tersedia fenobrbital yang dapat diberikan secara intravena dengan dosis 5 mg/kgbb pada kecepatan 30 mg/menit.

2. Pengobatan Penunjang
Sebelum memberantas kejang jangan lupa dengan pengobatan penunjang. Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung. Penting sekali mengusahakan jalan napas yang bebas agar oksigenasi terjamin, kalau perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi. Pengisapan lendir dilakukan secara teratur dan pengobatan ditambah dengan memberikan oksigen.

Fungsi vital seperti kesadaran,suhu, tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat. Cairan intravena sebaiknya diberikan dengan monitoring untuk kelainan metabolik dan elektrolit. Bila terdapat tanda tekanan intrakranial yang meninggi jangan diberikan cairan dengan kadar natrium yang terlalu tinggi. Bila suhu meninggi (hiperpireksia) dilakukan hibernasi dengan kompres es atau alkohol.

Untuk mencegah terjadinya edema otak, diberikan kortikosteroid, yaitu dengan dosis 20-30 mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis atau sebaiknya glukokortikoid misalnya deksametason 0,5 – 1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik.

3. Pengobatan Rumat
Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat. Daya kerja diazepam sangat singkat yaitu berkisar antara 45 – 60 menit sesudah disuntik. Oleh sebab itu harus diberikan obat antiepileptik dengan daya kerja lebih lama misalnya fenobarbital atau difenilhidantoin.

Fenobarbital diberikan secara langsung setelah kejang berhenti dengan diazepam. Dosis awal adalah neonatus 30 mg; umur 1 bulan – 1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun keatas 75 mg, semuanya secara intramuskuler. Sesudah itu diberikan fenobarbital sebagi dosis rumat.

Karena metabolismenya didalam tubuh perlahan, pada anak cukup diberikan dalam 2 dosis sehari dan kadar maksimal dalam darah terdapat setelah 4 jam.Untuk mencapai kadar terapeutik secepat mungkin diperlukan dosis yang lebih tinggi daripada biasanya.

Lanjutan pengobatan rumat ini tergantung daripada keadaan penderita. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:

A. Profilaksis Intermitten
Untuk mencegah terulangnya kejang kembali dikemudian hari, penderita yang menderita kejang demam sederhana, diberikan obat campuran antikonvulsan dan anti piretika, yang harus diberikan pada anak bila menderita demam lagi. Antikonvulsan yang diberikan ialah fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kgbb/hari yang mempunyai akibat samping paling sedikit dibandingkan dengan obat antikonvulsan lainnya.

Obat antipiretika yang dipakai misalnya aspirin. Dosis aspirin adalah 60 mg/tahun/kali, sehari diberikan 3 kali atau untuk bayi dibawah mur 6 bulan diberikan 10 mg/bulan/kali, sehari diberikan 3 kali. Kadar maksimal dalam darah tercapai dalam 2 jam pemberian.

Profilaksis intermiten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam sederhana sangat kecil, yaitu sampai sekitar umur 4 tahun.

B. Profilaksis Jangka Panjang
Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup didalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang adalah fenobarbital, sodium valproat/asam valproat, fenitoin (diiantin).

4. Mencari dan Mengobati Penyebab Kejang Demam
Penyebab dari kejang demam baik kejang demam sederhana maupun epilepsi yang diprovokasi oleh demam biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat perlu untuk mengobati infeksi tersebut.

Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk pertama kalinya sebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi didalam otak misalnya meningitis.

Apabila menghadapi penderita dengan kejang demam yang lama, pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap misalnya gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen dan faal hati. Selanjutnya bila belum memberikan hasil yang diinginkan dan untuk melengkapi data, dapat dilakukan pemeriksaan khusus, yaitu X-foto tengkorak, elektroensefalogram, ekoensefalografi, ‘brain scan’ pneumoensefalografi dan arteriografi.

Komplikasi Kejang Demam

Komplikasi yang bisa terjadi pada kejang demam,adalah:

a. Rekurensi kejang. Hal ini tergantung dari umur, seks dan riwayat keluarga:
– < 13 bulan: wanita 50%, laki-laki 33%
– 14 bulan – 3 tahun dengan riwayat keluarga positif 50%, riwayat
Keluarga negatif 25%.
b. Epilepsi: kejang demam sederhana 3,1% kejang demam epilepsi 73%.
c. Hemiparese 0,2-5,9% (Millichap, 1968)
d. Messial temporal sclerosis oleh karena kejang yang lama.

Prognosis Kejang Demam pada Anak

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian. Dua penyelidikan masing-masing mendapat angka kematian 0,46% dan 0,74%.

Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang berkisar antara 25%- 50% yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.

Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor:
1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
2. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan susunan saraf sebelum anak menderita
kejang demam.
3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut diatas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya terdapat 1 atau tidk sama sekali faktor tersebut diatas, serangan kejang tanpa demam hanya 2% – 3% saja.