Diagnosis dan Gejala Trauma Nervus Kranialis

https://www.ibubayi.comTrauma Nervus Kranialis dan Medula Spinalis

Trauma pada nervus kranialis dan medulla spinalis merupakan akibat dari hiperekstensi, traksi, dan peregangan yang berlebihan bersamaan dengan rotasi. Trauma dapat bervariasi antara neurapraksia local sampai transeksi nervus dan medulla spinalis secara lengkap.

Trauma Nervus Kranialis

Cabang unilateral nervus fasialis dan nervus vagus unilateral yaitu nervus laryngeal rekurens merupakan saraf cranial yang paling sering mengalami trauma dan dapat mengakibatkan paralisis yang menetap atau sementara.

Kompresi karena daun forceps sering dihubungkan dengan paralisis nervus fasialis. Namun, sebenarnya sebagian besar paralisis nervus fasialis tidak berhubungan dengan trauma karena persalinan dengan bantuan alat (seperti forceps). Kompresi terjadi saat kepala janin melewati os sacrum.

Gejala klinik pada trauma nervus VII sentral adalah muka yang tidak simetris pada saat menangis. Mulut tertarik ke sisi yang normal, kerutan lebih dalam disisi yang licin dan tampak membengkak, lipatan nasolabial menghilang, dan sudut mulut turun. Tidak ada bukti trauma pada wajah.

Gejala klinik pada trauma nervus VII perifer adalah wajah asimetris saat menangis. Kadang-kadang terdapat bekas penggunaan forceps. Pada trauma cabang perifer, paralisis mengenai dahi, mata, atau mulut.

Diagnosis banding antara lain sindrom Mobius, tidak adanya otot wajah secara congenital, tidak adanya otot orbikularis oris unilateral, dan perdarahan intracranial.

Sebagian besar bayi mulai mengalami penyembuhan pada minggu pertama, terapi untuk penyembuhan sempurna memerlukan waktu beberapa bulan.

Paralisis karena trauma biasanya akan sembuh atau membaik, sedangkan paralisis yang menetap biasanya disebabkan oleh tidak adanya persarafan.

Penanganan meliputi menutup mata yang terbuka dengan pelindung mata dan pemberian air mata sintetik (metilselulose) setiap 4 jam. Konsultasi dengan spesialis saraf dan spesialis bedah harus dilakukan bila tidak ada perbaikan dalam 7-10 hari.

Paralisis diafragma akibat trauma akar nervus servikal yang selanjutnya menjadi nervus frenikus dapat terjadi sebagai suatu kelainan tersendiri (isolated) atau bersamaan dengan paralisis pleksus brakialis.

Gejala kliniknya bervariasi. Perjalanan penyakitnya bifasik, pada awalnya bayi mengalami gangguan pernapasan dengan takipnea dan analisis gas darah menunjukkan hipoventilasi (antara lain hipoksemia, hiperkapnia, asidosis).

Dalam beberapa hari berikutnya, bayi membaik dengan pemberian oksigen dan kadang-kadang diperlukan alat bantu napas. Diafragma yang letaknya tinggi mungkin tidak tampak pada awal perjalanan penyakit. Sekitar 80% kasus umumnya mengenai sisi sebelah kanan dan hanya 10% yang bilateral.

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan ultrasonografi atau fluoroskopi rongga toraks, yang memperlihatkan peningkatan diafragma dengan gerakan paradox pada sisi yang terkena pada saat bernapas.

Mortalitas pada lesi unilateral sekitar 10-15%. Sebagian besar pasien akan mengalami penyembuhan pada 6-12 bulan pertama. Prognosis lesi bilateral lebih buruk.

Mortalitas mencapai 50%, dan kadang-kadang diperlukan bantuan ventilator untuk waktu yang lama. Terapi terdiri atas pemantauan status respirasi secara terus-menerus dan intervensi jika memungkinkan.