Angka Kematian Ibu Hamil

Angka Kematian Ibu HamilPenyebab langsung kematian ibu hamil terbanyak adalah pendarahan

Bagaimana tidak setiap 3 jam terdapat 1 orang ibu hamil yang meninggal dunia. Penanganan terhadap ibu hamil masih belum maksimal. Penyebab langsung kematian ibu hamil terbanyak adalah pendarahan sebanyak 30 persen, eklampsia 25 persen, infeksi 12 persen, komplikasi masa nifas 9 persen, abortus dan partus lama masing-masing 5 persen dan penyebab lain sebesar 12 persen.

Angka kematian ibu saat ini masih banyak, sekitar 10.260 setiap tahun atau 855 orang setiap bulan. Atau setiap tiga jam terdapat satu kematian,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Saat ini angka kematian ibu hamil sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu ini berhasil diturunkan dibanding tahun 2002-2003 berjumlah 307 orang. Adapun target pemerintah tahun 2015 diharapkan angka kematian ibu turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Angka kematian ibu yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditetapkan MDGs (Millenium Development Goals) sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini masih jauh dari harapan semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat. Angka kematian bayi pada 5 tahun terakhir ini menunjukkan penurunan yang lambat. Kini, angka kematian bayi sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini didorong oleh keberhasilan imunisasi dan penanganan penyakit infeksi yang sangat besar kontribusinya dalam penurunan angka kematian bayi.

Mengetahui Masa Subur Perempuan

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan perempuan untuk mengetahui kapan masa suburnya. Kehamilan bisa terjadi jika satu sel telur yang matang berhasil dibuahi oleh sperma dan tertanam di dalam rahim. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memprediksi masa subur seorang perempuan. Cara terbaik adalah dengan memberikan perhatian lebih pada tubuh dan mengenali tanda-tanda bahwa ovulasi sudah dekat.

Beberapa cara  dilakukan untuk mengetahui kapan waktu subur tiba:

1. Menghitung hari atau sistem kalender.
Kalender ovulasi bisa bekerja dengan sangat baik untuk menentukan potensi masa subur jika memiliki siklus yang teratur. Bagi yang siklusnya tidak teratur, pertama-tama hitung panjang siklus selama 6 siklus berturut-turut hingga didapatkan siklus terpanjang dan terpendek. Siklus terpanjang dikurangi 11, sedangkan siklus terpendek dikurangi 18 dan didapatkan masa suburnya. Misal siklus terpanjang 30 dan siklus terpendek 26, perhitungannya adalah (30-11 = 21) dan (26-18 = 8) masa subur berlangsung dari hari ke-8 hingga hari ke-21.

2. Perubahan lendir leher rahim.
Saat siklus bulanan berlangsung, maka lendir leher rahim juga akan mengalami peningkatan volume dan perubahan tekstur. Semakin banyak volume lendir yang dihasilkan mencerminkan adanya perubahan dalam tubuh yaitu meningkatnya kadar hormon estrogen. Seseorang dianggap mengalami masa paling subur jika lendirnya bersih, licin dan elastis.

3. Rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.
Sekitar 1 dari 5 perempuan menandakan masa ovulasinya dengan rasa nyeri atau sakit pada perut bagian bawah, rasa nyeri yang timbul cenderung ringan.

4. Kenaikan suhu tubuh.
Saat mengalami ovulasi, suhu tubuh biasanya akan meningkat sebesar 0,5-1,6 derajat celsius, hal ini bisa dideteksi dengan menggunakan termometer dan mengukur suhu basal tubuh (BBT). Suhu tubuh yang diukur adalah suhu pagi hari saat seseorang masih berada di tempat tidur dan belum melakukan kegiatan apapun, peningkatan suhu ini menandakan adanya peningkatan dari hormon progesteron.

5. Alat tes ovulasi.
Alat untuk mengukur masa ovulasi bekerja dengan mendeteksi hormon pra-ovulasi yaitu LH-Surge di dalam tubuh. Alat ini dapat digunakan di rumah dan memungkinkan Anda untuk memprediksi sendiri kapan masa suburnya dengan tingkat akurasi yang besar.