Imunisasi Merupakan Pencegahan Penyakit Pada Anak

Imunisasi Merupakan Pencegahan Penyakit Pada AnakPencegahan adalah kunci untuk memiliki kesehatan yang baik. Bahkan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Salah satu cara terbaik untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari penyakit adalah dengan imunisasi. Imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk menstimulasi reaksi kekebalan tubuh tanpa menimbulkan penyakit. Meski tidak semua penyakit infeksi tersebut mengancam jiwa, beberapa penyakit bisa menyebabkan kecacatan. Teknik pemberian imunisasi pada umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara disuntik atau ditelan. Setelah bibit penyakit itu masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit itu dengan membentuk antibodi.

Selanjutnya, antibodi itu akan terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk kemudian melawan penyakit yang mencoba menyerang. Sejak pemakaiannya meluas pada abad ke-20, imunisasi telah mencegah jutaan kematian di dunia. Kendati begitu, masih saja banyak orang yang tidak mau diimunisasi. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran terhadap keamanan dan efek samping dari vaksin. Masyarakat sering kali lebih khawatir terhadap efek samping vaksin, seperti demam atau pegal-pegal, daripada penyakitnya. Padahal, komplikasi penyakit bisa menyebabkan kecacatan, bahkan kematian, Efek samping imunisasi dapat disebabkan oleh faktor penyimpanan yang kurang memerhatikan sistem rantai dingin (cold chain) dan cara penyuntikan.

Share This Post

One Response to “Imunisasi Merupakan Pencegahan Penyakit Pada Anak”

  1. bujan says:

    Sekarang, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pemberian vaksin hepatitis B untuk bayi laki-laki yang baru lahir mempunyai risiko lebih dari tiga kali lipat terkait dengan gangguan spektrum autisme.

    Abstrak penelitian diterbitkan pada September, 2009 disampaikan pada jurnal Annals of Epidemiology. Di dalamnya, Carolyn Gallagher dan Melody Goodman dari Program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat di Stony Brook University Medical Center, NY, menulis bahwa, "bayi laki-laki yang menerima vaksin hepatitis B pada bulan pertama kehidupannya mempunyai peluang 2,94 lebih besar terkena autis dibandingkan dengan bayi yang tidak divaksinasi. "Para penulis menggunakan sampel probabilitas yang diperoleh dari National Health Interview Survey (NHIS), AS, dengan rentang 1997-2002 dataset..

    The conclusion states that: “Findings suggest that US male neonates vaccinated with hepatitis B vaccine had a 3-fold greater risk of ASD; risk was greatest for non-white boys.” Kesimpulan menyatakan bahwa: "Temuan menunjukkan bahwa AS neonatus laki-laki yang divaksinasi dengan vaksin hepatitis B mempunyai risiko 3 kali lipat lebih besar terkana autis sindrome; risiko terbesar untuk anak laki-laki non kulit putih."

    Para penulis mencatat bahwa studi sebelumnya oleh mereka menemukan bahwa vaksinasi hepatitis B dikaitkan dengan penerimaan dari intervensi awal / jasa pendidikan khusus (EIS); dalam sampel probabilitas anak-anak AS, dan bahwa "anak-anak dengan gangguan spektrum autistik (ASD) terdiri dari tumbuh beban kasus untuk EIS. "

    sumber: <a href="http://www.iloveqatar.net” target=”_blank”>www.iloveqatar.net

Leave a Reply

IBN Network Reg. No: 245//IBN/2012.