Ibu yang baru saja melahirkan bayi kadang bingung dan khawatir karena air susunya (ASI) belum keluar. Tapi sebenarnya bayi yang baru lahir bisa bertahan hingga 48 jam tanpa menyusu. Bayi bisa bertahan 24-48 jam, karena ia sudah dibekali dari kandungan. Tapi yang terpenting jangan dipisahkan dari ibunya. Bayi menangis pasti yang terlintas pertama kali adalah bayi tersebut lapar sehingga harus disusui. Padahal bayi yang dipisahkan 6 jam saja dari ibunya akan memiliki tingkat stres yang 2 kali lipat lebih tinggi yang bisa membuatnya menangis. Hal ini karena selama di kandungan bayi selalu dekat dengan ibunya, dan jika kadar hormon stresnya meningkat akan membuat daya tahan tubuhnya berkurang sebesar 50 persen.
Maka gendonglah ia sehingga bisa mendapatkan skin to skin contact (kontak kulit) dengan ibu dan tetaplah berusaha menyusui agar bisa mendapatkan kolostrum meski hanya 1-2 tetes saja. Kolostrum ini berfungsi untuk membantu mematangkan usus bayi dengan menutup lubang-lubang yang ada di usus agar tidak diisi oleh benda-benda asing. Hampir sekitar 50 persen keberhasilan menyusui bergantung pada pikiran si ibu. Sedikit saja si ibu memiliki pikiran negatif maka akan langsung membuat produksi ASI-nya menjadi drop. Hormon oksitosin terpengaruh oleh pikiran ibu, jadi kalau ibu sedang sedih, stres, kesel atau mangkel maka hormon oksitosin akan berkurang yang mempengaruhi produksi ASI.
Posted in Gizi Bayi, Gizi Ibu, Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Info Ibu, Info Menyusui, Masalah Kesehatan Anak, Perawatan Bayi, Uncategorized
Banyaknya vaksin di indonesia yang diwajibkan untuk anak-anak dan balita adalah vaksin BCG, DPT, POLIO, hepatitis B dan campak. Tertapi selain vaksin tersebut ada juga vaksin influenza yang harus dibutuhkan oleh anak. Vaksin influenza dianjurkan diberikan sejak usia 6 bulan setiap tahunnya, sesuai dengan anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO). Namun sampai dengan saat ini, vaksinasi influenza di Indonesia belum populer. Sehingga diperlukan sosialisasi dari pemerintah dan edukasi dari petugas medis agar manfaat dari vaksinasi influenza dikenal luas oleh masyarakat.
Vaksin influenza memang tidak termasuk vaksin yang diprogramkan wajib oleh pemerintah, juga tidak dibiayai oleh pemerintah. Tapi vaksin-vaksin yang tidak masuk program bukan berarti tidak penting. Vaksin influenza penting untuk anak terutama yang usianya kurang dari 6 bulan, karena merupakan kelompok yang paling parah terkena influenz. Biaya untuk vaksin influenza memang sedikit mahal, yaitu Rp 100 ribu. Selain biaya, efek samping setelah vaksinasi juga sering menjadi alasan orangtua belum memvaksin anaknya. Jadi anak harus sehat sebelum divaksin, kalau panas nggak boleh diberikan. Jadi bisa dibedakan itu panas karena sakit atau karena KIPI.
Posted in Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Info Ibu, Kesehatan Bayi, Tumbuh Kembang, Uncategorized
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi atau vaksinasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Tujuan imunisasi adalah merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.
Virus atau bakteri yang dilemahkan.
Beberapa vaksin, seperti vaksin campak, gondongan, dan cacar air (varisela) misalnya, menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan.
Toksoid.
Ada beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun ke dalam aliran darah. Jenis vaksin toksoid, seperti vaksin difteri dan tetanus, dibuat dengan menggunakan racun bakteri yang telah dilemahkan.
Virus/bakteri yang mati atau dinonaktifkan.
Vaksin lain menggunakan bakteri atau virus yang dinonaktifkan (dimatikan). Vaksin polio dibuat dengan cara ini.
Aseluler dan subunit.
Vaksin aseluler dan subunit dibuat dengan menggunakan hanya sebagian dari virus atau bakteri. Vaksin hepatitis dan hemofilus influenza tipe b (Hib) dibuat dengan cara ini.
Posted in Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Info Ibu, Makanan Bayi, Tumbuh Kembang
Pencegahan adalah kunci untuk memiliki kesehatan yang baik. Bahkan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Salah satu cara terbaik untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari penyakit adalah dengan imunisasi. Imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk menstimulasi reaksi kekebalan tubuh tanpa menimbulkan penyakit. Meski tidak semua penyakit infeksi tersebut mengancam jiwa, beberapa penyakit bisa menyebabkan kecacatan. Teknik pemberian imunisasi pada umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara disuntik atau ditelan. Setelah bibit penyakit itu masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit itu dengan membentuk antibodi.
Selanjutnya, antibodi itu akan terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk kemudian melawan penyakit yang mencoba menyerang. Sejak pemakaiannya meluas pada abad ke-20, imunisasi telah mencegah jutaan kematian di dunia. Kendati begitu, masih saja banyak orang yang tidak mau diimunisasi. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran terhadap keamanan dan efek samping dari vaksin. Masyarakat sering kali lebih khawatir terhadap efek samping vaksin, seperti demam atau pegal-pegal, daripada penyakitnya. Padahal, komplikasi penyakit bisa menyebabkan kecacatan, bahkan kematian, Efek samping imunisasi dapat disebabkan oleh faktor penyimpanan yang kurang memerhatikan sistem rantai dingin (cold chain) dan cara penyuntikan.
Posted in Gizi Bayi, Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Kesehatan Bayi, Kesehatan Umum, Tumbuh Kembang
Kampanye Air Susu Ibu (ASI) terus digalakkan untuk menghimbau ibu-ibu mau menyusui bayinya secara eksklusif hingga usia 6 bulan. Sayangnya, gencar dan luar biasanya iklan susu formula menenggelamkan kampanye-kampanye ASI. ASI merupakan makanan bayi ciptaan Tuhan yang memenuhi kebutuhan gizi bayi serta mengandung zat kekebalan terhadap penyakit dan alergi. Setiap bayi berhak mendapatkan ASI dan setiap ibu perlu mendapat dukungan untuk menyusui.
Tapi di zaman moderen seperti sekarang, memberi ASI secara eksklusif tampaknya banyak rintangan, terlebih bila si ibu adalah seorang wanita karir yang hanya memiliki masa cuti hamil selama 3 bulan saja. Jumlah ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif (0-6 bulan) menunjukkan jumlah yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Padahal penyuluhan dan kampanye ASI tampaknya semakin tahun semakin banyak dilakukan.
jika dilihat dari pertambahan usia bayi dari 0 sampai 6 bulan, diketahui ibu yang menyusui bayi sebesar 73 persen pada usia bayi 0-1 bulan, 77,1 (1-2 bulan), 63,3 (2-3 bulan), 56,7 persen (3-4 persen), 41,3 persen (4-5 bulan) dan hanya 24,3 persen yang masih menyususi pada saat bayi berusia 5-6 bulan. Dalam rangka mendukung pemenuhan hak bayi dan ibu tersebut di atas, WHO dan UNICEF pada tahun 1989 sebenarnya telah memperkenalkan ’10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM)’ yang menekankan pentingnya peran khusus fasilitas pelayanan kesehatan ibu untuk menerapkan 10 LMKM agar semua ibu sukses menyusui.
Posted in Imunisasi, Info Ibu, Info Menyusui
Banyak orangtua yang masih takut melakukan imunisasi anaknya karena beredar kabar vaksin yang digunakan tidak aman. Hal ini tidaklah benar, karena vaksin yang digunakan pemerintah aman dan dipakai di beberapa negara lain. Vaksin dibutuhkan untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita terutama penyakit menular. Pencegahan yang bisa dilakukan adalah pemberian vaksin. Selain itu usaha ini juga termasuk dalam memenuhi hak dari anak yaitu memberikan perlindungan.
“Vaksin yang selama ini digunakan untuk vaksin masal adalah vaksin buatan Indoensia yang juga diekspor ke beberapa negara. Tapi kenapa justru orang Indonesia sendiri yang tidak percaya,” ujar Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi. Dr Soedjatmiko menuturkan sebelum vaksin tersebut digunakan secara luas, telah dilakukan penelitian bertahap selama 10-15 tahun. Awalnya vaksin ini dirancang oleh sekelompok ahli, lalu diujikan pada hewan percobaan, diuji pada manusia dengan 3 tahap yaitu keamanan, daya kekebalan serta perlindungan. Selain itu vaksin ini juga diawasi dan telah disetujui oleh Badan kesehatan
dunia (WHO).
Vaksinasi atau imunisasi yang diberikan pada anak merupakan pencegahan yang spesifik, efisien dan juga efektif terhadap penyakit menular dan berbahaya, seperti tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak dan penyakit lainnya. Biasanya 2-4 minggu setelah anak diimunisasi, maka sudah tumbuh kekebalan di dalam diri si kecil. Vaksin yang diberikan bisa berisi bakteri yang dilemahkan (vaksin BCG, tifoid oral), bakteri mati (DPT, Hib, penumokokus, tifoid), virus yang dilemahkan (polio, campak, cacar, MMR, rotavirus), virus yang mati (hepatitis A dan B, influenza, kanker leher rahim, rabies) atau toksoid (racun yang dilemahkan untuk vaksin tetanus dan difteri).
Posted in Gizi Bayi, Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Kesehatan Bayi
Setidaknya 60% kasus infertilitas tidak terjelaskan. Salah satu penyebabnya adalah antisperma (ASA).
- Kelainan ASA ini memiliki kaitan dengan kekebalan tubuh dalam mengenali sperma layaknya virus.
Secara normal, terdapat pelindung unik pada sel sperma yang menyebabkan tak dikenali tubuh wanita. Di dalam tubuh wanita, sel sperma diperlakukan sebagai benda asing layaknya virus sehingga diserang oleh antibodi.
- ASA juga bisa dicurigai pada wanita yang kerap mengalami keguguran pada trimester pertama.
- Bisa terjadi pada pasangan yang kesulitan punya anak kedua, karena anak pertama merupakan faktor keberuntungan.
Ragam faktor
- Rusaknya pelindung sel sperma karena:
. luka pada buah pelir,
. buah pelir terpelintir,
. kelainan testis yang tidak masuk sampai pada buah pelir,
. pembatalan vasektomi,
. varikokel,
. kanker buah pelir.
- Pada wanita, antibodi antisperma dapat diproduksi pada lendir servik. Biasanya kelainan ini didapat secara bakat dari keturunannya.
Imunisasi dan Terapi
- Cara menurunkan antibodi antisperma secara klasik dengan menggunakan kondom selama 6 bulan. Tujuannya untuk menurunkan antibodi terhadap sperma sehingga setelah terapi dilakukan, peluang sperma untuk mencapai sel telur bisa meningkat.
- Memberikan imunosupresor yang mampu menekan kemampuan antibodi istri.
- Cara mutakhir dengan melakukan paternal leukocyte immunization atau imunisasi sel darah putih suami terhadap istri. Jika 60% masalah infertilitas merupakan masalah AHA dan 40% di luar AHA. Yang pasti 100% merupakan hak prerogatif SangKhaliq.
Posted in Imunisasi, Kehamilan
Rendahnya cakupan imunisasi lengkap di Indonesia, 46,2 persen, menunjukkan upaya pencegahan penyakit belum mendapat perhatian serius. Karena itu, perlu komitmen bersama untuk menggalakkan kembali kampanye imunisasi bagi bayi dan anak balita. Dari hasil riset kesehatan dasar tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik, cakupan imunisasi lengkap anak usia 12-23 bulan sebesar 46,2 persen. Mereka mendapat vaksinasi BCG, polio 3 kali, DPT 3 kali, hepatitis B 3 kali, dan campak.
Provinsi dengan cakupan imunisasi lengkap paling buruk adalah Sulawesi Barat (17,3 persen). Kabupaten/kota dengan cakupan imunisasi lengkap nol persen adalah Waropen, Tolikara, Paniai, Puncak Jaya, dan Yahukimo. Bila seorang anak tak mendapat vaksinasi lengkap, kemungkinan terhindar dari penyakit kurang dari 80 persen. Tahun 1990 Indonesia sudah mencapai universal child immunization (UCI) nasional. UCI adalah tercapainya cakupan minimal 80 persen imunisasi lengkap bayi sebelum usia 1 tahun untuk antigen BCG 1 kali, DPT 3 kali, campak 1 kali, polio 3 kali, lalu tahun 1997 masuk hepatitis B 3 kali.
Laporan Depkes menunjukkan, pencapaian UCI desa di Indonesia tahun 2007 dengan indikator cakupan imunisasi campak 76,1 persen, tahun 2008 sebesar 68,3 persen. Provinsi dengan cakupan UCI rendah antara lain Lampung, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Tenggara, Maluku.
Partisipasi
Rendahnya cakupan imunisasi lengkap di sejumlah provinsi mencerminkan lemahnya upaya penanggulangan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.
Evaluasi
Nasrin menilai, perlu ada evaluasi program imunisasi menyeluruh oleh lembaga independen. Hal ini bertujuan meningkatkan cakupan 5 jenis imunisasi yang wajib diberikan sesuai dengan program pemerintah.
Posted in Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Kesehatan Bayi, Tumbuh Kembang
Ada beberapa cara agar ASI lancar dan banyak
* Tingkatkan frekuensi menyusui
Jika anak belum mau menyusu karena masih kenyang, perahlah / pompalahASI. Ingat ! produksi ASI prinsipnya based on demand sama spt prinsip pabrik. Jika makin sering diminta (disusui/diperas/dipompa) maka makin banyak yg ASI yg diproduksi.
* Kosongkanlah payudara setelah anak anda selesai menyusu
Bahasan ini masih terkait dengan point di atas. Makin sering dikosongkan, maka produksi ASI juga makin lancar.
* Ibu harus dalam keadaan santai
Menurut hasil penelitian, 80 persen lebih kegagalan ibu menyusui dalam memberikan ASI eksklusif adalah faktor psikologis ibu menyusui. Relaks saja ya bu. Disini sebetulnya peran besar sang ayah. Jika ayah mendukung maka ASI akan lancar. Mendukung bisa dg berbagai cara mulai dari menyemangati istri hingga hal2 lain spt menyendawakan bayi setelah menyusu, menggendong bayi utk disusukan ke ibunya, dsbnya.
* Hindari susu formula
Terkadang karena banyak orangtua merasa bahwa ASInya masih sedikit atautakut anak gak kenyang, banyak yg segera memberikan susu formula. Padahal. pemberian susu formula itu justru akan menyebabkan ASI semakin tidak lancar. Anak relatif malas menyusu atau malah bingung puting terutama pemberian susu formula dg dot.
* Hindari penggunaan DOT
Jika ibu ingin memberikan ASI peras/pompa (ataupun memilih susu formula) berikan ke bayi dg menggunakan sendok, bukan dot ! Saat ibu memberikan dg dot, maka anak dapat mengalami BINGUNG PUTING (nipple confusion). Kondisi dimana bayi hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola (bag. gelap di sekitar puting payudara) ibu masuk ke mulut bayi. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. Karena itu hindari penggunaan dot dsbnya.
Posted in Gizi Bayi, Gizi Ibu, Imunisasi, Info Balita, Info Bayi, Info Ibu, Info Menyusui
Produktifitas ASI dapat ditambah mulai dari usia kehamilan dini. Berbagai asupan gisi dan suplemen khusus ibu hamil menjadi salah satu cara jitu. ASI merupakan nutrisi pertama bagi si kecil. Bagi para mama baru, kurangnya produktivitas ASI merupakan hal yang yang membuat panik. Sering kali rasa khawatir yang berlebihan melanda. Apalagi ketika pemikiran bahwa si kecil tak bisa mendapatkan ASI ekslusifnya selama 6 bulan akan semakin mengganggu.
Pertama-tama yang harus diketahui oleh para mama baru adalah aneka bahan makanan yang mengandung Anti-Galactogogues. Sayuran dan tumbuhan yang mengandung Anti-Galactogogues antara lain kol dan daun mint.
Ada beberapa cara menambah produksi ASI adalah sebagai berikut:
* Kondisi fisik
Produksi ASI juga ditentukan oleh kondisi fisik dan mental seseorang. Tidur yang cukup akan membuat kondisi fisik dan mental menjadi pulih. Bahkan seorang mama baru disarankan untuk tidur 10 jam per-hari layaknya seorang bayi untuk memulihkan keadaan fisiknya.
* Minum Air
Dehidrasi merupakan salah satu penyebab berkurangnya produksi ASI. Oleh karena
itu, disarankan bagi para mama untuk minum air secukupnya agar produksi ASI
lancar.
* Butuh rangsangan
Terkadang ASI susah keluar bukan karena produksinya rendah, melainkan butuh rangsangan. Coba ajak bayi Anda untuk meminum ASI secara langsung. Hal itu akan merangsang ASI untuk mudah keluar dan terus diproduksi.
Posted in Gizi Bayi, Gizi Ibu, Imunisasi, Info Ibu, Info Menyusui, Kesehatan Bayi